Indonesia merupakan salah satu negara "hijau" dan "biru" terpenting di dunia, lantaran punya hutan tropis yang luas, keanekaragaman hayati yang sangat besar, dan wilayah maritim yang luas.
Namun, ada kesenjangan "pengelolaan" yang mendalam: negara ini memiliki sumber daya, tetapi kekurangan sumber daya manusia yang terspesialisasi untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
Sementara di saat kelangsungan hidup bangsa Indonesia bergantung pada kedaulatan pangan dan ketahanan lingkungan, generasi mudanya malah menjauhkan diri dari bidang-bidang ini.
Ini jadi sebuah kerentanan strategis yang berbahaya, di mana kekayaan alam Indonesia dibiarkan tidak terkelola dengan baik atau dieksploitasi oleh kepentingan asing.
Padahal Indonesia masih punya pemikir terbaik, yang sayangnya telah memilih jalan yang berbeda.
Akhirnya, lembaga-lembaga seperti IPB University dan badan-badan akademik berbasis sumber daya alam lainnya, dinilai banyak orang sebagai institusi yang mengalami "kegagalan produksi" aluminya.
Dan mungkin, merupakan gejala paling nyata dari krisis ini.
Lembaga-lembaga tersebut idealnya dirancang untuk menjadi penggerak inovasi pertanian dan maritim Indonesia, namun malah jadi "penyedia talenta" bagi sektor keuangan dan jasa.
![]() |
| Anak muda berjalan di tengah sawah |
Ketika mayoritas lulusan dari program kehutanan, peternakan, dan pertanian bermigrasi ke perbankan, jurnalisme, atau seni, hal itu dinilai sebagai pemborosan besar investasi negara dan potensi intelektual.
Jalur karier yang tidak ideal tersebut bukan sekadar pilihan pribadi, tapi sebuah tuduhan struktural terhadap education-to-industry pipeline yang pada dasarnya rusak.
Akar permasalahan ini, sebenarnya sudah terindikasi sejak dulu: terletak pada ketidakseimbangan yang parah antara insentif ekonomi dan prestise sosial.
Dalam lanskap Indonesia saat ini, karier di bidang perbankan jelas memberi kenyamanan ber-AC, dan jenjang karier yang dapat diprediksi. Atau jadi content creator menawarkan status sosial instan.
Sebaliknya, sektor "hijau" masih dipandang melalui lensa kuno —dikaitkan dengan kesulitan fisik, risiko keuangan yang tinggi, dan integrasi teknologi yang rendah.
Selama seorang sarjana muda melihat bank sebagai tempat yang stabil dan pertanian sebagai tempat kemiskinan, jalur "idealis" akan selalu kalah.
"Negara Hijau" secara efektif dikelola oleh "Generasi Abu-abu" yang terdiri dari petani yang menua. Sementara kaum mudanya, mengejar mimpi digital yang terlepas dari fondasi fisik bangsa.
Jenuh kreatifitas
Profesi content creator adalah bagian dari geliat ekonomi kratif yang telah menggeser aspirasi kaum muda ke arah acting yang terlihat jelas, namun tidak berwujud nyata.
Meskipun sektor kreatif berharga, tapi sektor ini tidak dapat menggantikan kebutuhan mendasar akan pangan dan pengelolaan sumber daya.
Ada romantisasi gaya hidup "nomad digital" yang justru malah sering mengabaikan "kerja keras" para penjaga lingkungan. Di mana para content creator berlomba membuat tayangan dengan latar belakang sector lingkungan dan pertanian.
Lalu bagaimana bila punggawa lingkungan dan pertanian itu tidak ada? Apakah para content creator bersedia mengonten di balik lingkungan alam yang liar dan pertanian yang rusak?
Di situlah kita membutuhkan pemikiran paling kreatif kita untuk berfokus pada inovasi "Pertanian Cerdas" atau "Perikanan Berkelanjutan", dan mengurangi kreatifitas untuk membangun pengaruh virtual.
Apa yang terjadi selanjutnya bila krisis SDM ini menyebabkan hilangnya kedaulatan nasional atas sumber daya kita sendiri?
Tentunya ketiadaan tenaga kerja muda yang bisa memanfaatkan teknologi tinggi di sektor pertanian dan maritim, sehingga Indonesia tetap terjebak dalam "jebakan komoditas" mengekspor bahan mentah.
Sebaliknya, kita berada dalam posisi di mana harus mengimpor pangan dan teknologi dari negara-negara dengan sumber daya alam yang jauh lebih sedikit daripada kita.
Dan negara-negara tersebut malah berhasil memberikan insentif kepada kaum muda mereka untuk menjadi spesialis "agri-tech" dan "marine-tech".
Solusi masalah ini adalah "Revolusi Industri Hijau" yang mengubah citra sektor-sektor ini sebagai karir berteknologi tinggi, berpenghasilan tinggi, dan bergengsi.
Tidak cukup bagi IPB dan pihak lain untuk mengajarkan ilmu pertanian. Negara juga harus menciptakan ekosistem, di mana menjadi "Petani Modern" atau "Pengusaha Bio Kelautan" lebih menguntungkan dan bergengsi daripada menjadi manajer bank tingkat menengah.
* Ditulis oleh Angiola Harry - Wakil Sekjen II HA IPB Kota Bekasi | Hubungan Eksternal
** Opini personal, tidak mewakili HA IPB Kota Bekasi









0 Comments